MeteorNews *" BANDUNG | Rencana pembangunan fasilitas Pengolahan Sampah menjadi Energi Listrik (PSEL) atau Waste to Energy di kawasan Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Sarimukti, Kabupaten Bandung Barat (KBB), menghadapi sejumlah kendala.
Kondisi lahan yang berbukit hingga keterbatasan sumber air membuat lokasi tersebut dinilai kurang representatif untuk pengembangan fasilitas pengolahan sampah tersebut.
Kepala UPTD Pengelolaan Sampah TPA/TPST Regional Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Provinsi Jawa Barat, Arief Perdana, mengungkapkan bahwa terdapat sejumlah pertimbangan yang membuat pembangunan PSEL di Sarimukti sulit diwujudkan.
Menurutnya, Kementerian Lingkungan Hidup (KLH) telah menyampaikan surat yang memuat sejumlah pertimbangan terkait kelayakan lokasi tersebut. Faktor morfologi lahan, kondisi vegetasi, hingga kebutuhan air dalam jumlah besar menjadi kendala utama."Untuk PSEL sudah ada surat dari Kementerian Lingkungan Hidup (KLH).
Intinya mempertimbangkan morfologi lahan yang berbukit, tegakan pohon yang rapat, sampai ketersediaan air dalam jumlah besar, sulit kalau di TPA Sarimukti," kata Arief saat dikonfirmasi.
Kondisi tersebut membuat pemerintah harus mencari alternatif lokasi di luar kawasan TPA Sarimukti. Pasalnya, kawasan hutan di sekitar tempat pembuangan sampah itu tidak direkomendasikan untuk pembangunan fasilitas PSEL.
Arief menjelaskan, kendala perizinan penggunaan kawasan hutan menjadi salah satu alasan pencarian lokasi baru. Kementerian terkait maupun Dinas Kehutanan keberatan memberikan izin karena kondisi lahan yang memiliki jurang serta ditumbuhi pepohonan dengan kerapatan tinggi.
"Kalau di kawasan hutan tidak bisa. Dari Kementerian maupun Dinas Kehutanan berkeberatan mengeluarkan izin penggunaan kawasan hutan terkait kondisi jurang dan tegakan pohon yang rapat. Jadi kami harus mencari lahan baru," ujarnya.
Sebagai alternatif, pihaknya mempertimbangkan lahan nonhutan, termasuk lahan terlantar yang memungkinkan untuk dimanfaatkan. Namun, lokasi tersebut harus memenuhi persyaratan teknis, terutama ketersediaan sumber air untuk mendukung operasional fasilitas PSEL.
Menurut Arief, kebutuhan air menjadi persoalan yang tidak bisa diabaikan dalam menentukan lokasi pembangunan. Salah satu opsi yang berpotensi dipertimbangkan ialah mengambil pasokan air dari Waduk Cirata, meski jaraknya diperkirakan mencapai tujuh kilometer dari kawasan yang dimaksud.
"Sebetulnya yang menjadi kendala utama adalah ketersediaan air. Kalau harus mengambil air dari Cirata, jaraknya lumayan sekitar 7 km dan harus dikaji dulu agar tidak mengganggu pasokan listrik/air setempat," tuturnya.
Di tengah pencarian lokasi alternatif, persoalan lain yang tak kalah mendesak adalah semakin menipisnya kapasitas tampung TPA Sarimukti. Tempat pembuangan sampah regional yang melayani sejumlah daerah di Bandung Raya itu diperkirakan hanya mampu beroperasi hingga November 2026.
Prediksi tersebut lebih cepat dibandingkan perencanaan awal yang memperkirakan TPA Sarimukti masih dapat menampung sampah hingga Agustus 2027. Perbedaan itu terjadi karena kapasitas tersisa tidak sebanding dengan volume sampah yang terus masuk setiap hari.
"Sekarang faktanya, jika dibandingkan antara sisa kapasitas dengan sampah masuk, kita perkirakan di bulan November sudah penuh. Setidaknya itu angka perkiraannya," kata Arief.
Ia memaparkan, berdasarkan desain perluasan TPA Sarimukti, zona 5 yang memiliki luas sekitar 6,3 hektare dirancang untuk menampung 1,8 juta meter kubik sampah atau setara 700.000 ton.
Namun, berdasarkan data terakhir, timbunan sampah di zona tersebut telah mencapai sekitar 560.000 ton. Artinya, kapasitas yang terpakai sudah menyentuh 80 persen sehingga ruang untuk menampung sampah baru semakin terbatas.
"Dari 560.000 ton dibagi 700.000, itu sudah sekitar 80 persen dari kapasitas. Makanya kita hitung di bulan November 2026 itu sudah bisa penuh kalau dilihat dari sisa kapasitas dan sampah yang masuk," pungkasnya.
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!